Miskin Juga Berhak untuk Sukses
Kesuksesan merupakan impian semua orang, tiada satupun orang di dunia ini yang ingin hidupnya
melarat (sengsara)
sehingga setiap orang berhak untuk meraih kesuksesan dengan caranya
masing-masing. Cukup banyak orang-orang yang meraih kesuksesannya dengan
cara yang semestinya dilakukan
dan mendapatkan hasil sesuai dengan usaha yang dijalaninya dan jalan
seperti inilah yang dimaksud dengan kelompok orang yang memiliki mimpi
yang berkarakter. Contohnya dengan usaha melalui dunia pendidikan yang
kita jalani untuk menambah dan memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan. Tidak sedikit juga orang meraih kesuksesannya dengan cara yang tidak benar dan tidak semestinya dilakukan walaupun mendapatkan hasil yang dia diharapkan dan inilah yang dimaksud dengan mimpi yang tidak berkarakter, seperti melakukan sogok-menyogok terhadap suatu usaha untuk mendapatkan pekerjaan atau profesi demi mengejar kesuksesan. Dari kedua cara untuk meraih mimpi ini merupakan pilihan bagi kita untuk melaluinya.
Diantara
sekian banyak cara dari usaha-usaha yang kita lalui untuk meraih
kesukesan, tentunya pasti akan membuahkan hasil yang memiliki dua
kemungkinan, entah hasilnya adalah sukses ataupun gagal, yang penting
kita sudah mencoba untuk berusaha. Lain
halnya lagi ketika kita tidak pernah mencoba untuk berusaha dalam
meraih sebuah mimpi, ketika hal itu terjadi maka tentunya hanya satu
kemungkinan hasil yang akan terjadi yaitu gagal.
Kemudian, berbicara masalah kesukesan, terkadang menjadi sebuah pertanyaan dibenak kita, yaitu siapakah yang berhak untuk sukses?.
Pada
dasarnya kesuksesan itu berhak dimiliki oleh semua orang, baik orang
kaya maupun orang miskin, yang mnejadi penentu adalah usaha dan do’a
yang kita lakukan. Semakin banyak dan giat kita untuk berusaha dan
berdo’a maka semakin dekat kesuksesan kita, dan begitu juga sebaliknya.
Namun, yang
menjadi persepsi kebanyakan orang bahwa hanya orang-orang kayalah yang
berhak dan layak untuk mendapat kesuksesan karena sukses itu diraih
dengan modal utamanya adalah materi (uang), padahal peran materi tidak
ada ada apa-apanya dibandingkan dengan pernanan usaha dan do’a.
Jadi,
kesuksesan itu tidak mengharuskan untuk kaya, namun orang miskin atau
yang lemah ekonominya juga berhak untuk sukses. Bahkan akan menjadi
suatu yanng menakjubkan bagi kita ketika melihat si miksin lebih sukses
daripada si kaya, karena akan mejadi suatu hal yang wajar jika si kaya
mendapatkan kesuksesannya, dan itulah menjadi suatu bukti bahwa sukses
itu tidak harus kaya materi, namun yang terpenting adalah kaya hati dan
kaya akan komitmen untuk sukses.
Selain dari pertayaan diatas, opini yang berkembang dimata masyarakat,
secara kasat mata terkadang sering melihat dan beranggapan bahwa orang
yang memiliki pendidikan yang tinggi telah dikatakan sukses. Mungkin
bisa saja kita katakan demikian,
namun tidak selamanya orang yang sudah berpendidikan sampai ke jenjang
tertinggi sekalipun dikatakan sukses. Jika kita lihat dari realita dari
kualitas pendidikan di Indonesia pada umumnya atau disekitar kita pada
khususnya, belum menjamin adanya kesuksesan, terkadang kemungkinan yang
ada pada orang yang berpendidikan hanya mencari gelar dan untuk menjaga
wibawa, dan jika hal tersebut memang benar terjadi maka tidaklah pantas
seseorang itu dikatakan sukses. Bahkan sebaliknya orang yang tidak
berpendidikanpun belum tentu tidak sukses, karena cara
orang untuk sukses itu sesungguhnya berbeda-beda dan kesuksesan tidaklah
diukur dari tinggi atau rendahnya pendidikan.
Berakhir
pada kesimpulan saya, bahwa bukan hanya sekedar kaya dan berpendidikan
saja yang pantas untuk sukses, namun yang miskin juga berhak untuk
sukses, semuanya tergantung pada usaha dan komitmen untuk meraihnya,
karena sesungguhnya status strata social maupun ekonomi bukanlah
halangan untuk meraih kesuksesan.
No comments:
Post a Comment