Pertanyaan :
Assalâmu 'Alaikum...
Boleh nggak seorang peminjam suatu barang itu mengganti barang
pinjamannya dengan uang seharga barang tersebut, dikarenakan barang
pinjamannya hilang ?
Terima kasih...
( Dari : A Ejha Thea )
Jawaban :
Wa'alaikum Salam Warohmatullohi wabarokatuh
Barang pinjaman yang hilang ditangan peminjam, baik hilangnya karena
kurang hati-hati dalam menjaganya atau tidak, maka wajib untuk diganti,
berdasarkan hadits ;
عَنْ أُمَيَّةَ بْنِ صَفْوَانَ بْنِ
أُمَيَّةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ اسْتَعَارَ مِنْهُ أَدْرَاعًا يَوْمَ حُنَيْنٍ فَقَالَ: أَغَصْبٌ
يَا مُحَمَّدُ، فَقَالَ: لَا، بَلْ عَمَقٌ مَضْمُونَةٌ
" Dari Umayyah bin Shafwan bin Umayyah dari Ayahnya bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah meminjam beberapa baju besi saat
perang Hunain, lalu ia berkata, "Apakah ini suatu perampasan wahai
Muhammad!" Beliau menjawab: "Tidak, melainkan pinjaman yang akan
dijamin." (Sunan Abu Dawud, no.3562)
Sedangkan mengenai cara menggantinya, terdapat perbedaan pendapat diantara ulama ;
1. Diganti dengan uang seharga barang pinjaman tersebut pada saat
rusaknya bukan harga pada saat menerimanya, baik masih bisa dijumpai
barang yang serupa dengan barang pinjaman tersebuat atau tidak. Ini
adalah pendapat yang dikemukakan oleh Imam Al-Ardabili dalam kitab
Al-Anwar dan juga merupakan pendapat mayoritas ulama', dan pendapat
inilah yang mu'tamad sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Al-Bujairomi dan
Syekh Al-Baijuri.
2. Jika masih ditemukan barang yang serupa maka harus diganti dengan
barang yang serupa dan bila sudah tidak ditemukan lagi maka diganti
dengan uang seharga barang pinjaman tersebut. Ini merupakan pendapat
Syekh Ibnu Ashrun dan Imam As-Subki, namun ini adalah pendapat yang
dho'if (lemah) meskipun Syekh Al-Khotib menganggapnya sebagai pendapat
yang mu'tamad.
Kesimpulannya barang pinjaman yang hilang wajib diganti oleh peminjam
dengan uang seharga benda tersebut saat hilangnya. Wallohu a'lam
( Dijawab oleh : Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Abu Alwan, Ubaid Bin Aziz Hasanan dan Siroj Munir )
Referensi :
1.At-Tadzhib Fi Adillati Matnil Ghoyah Wat-Taqrib, Hal : 141
2. Hasyiyah Al-Baijuri Ala Fathul Qorib, Juz : 2 Hal : 21-22
3. Hasyiyah Al-Bujairomi Alal Khotib, Juz : 3 Hal : 162-163
Ibarot :
At-Tadzhib Fi Adillati Matnil Ghoyah Wat-Taqrib, Hal : 141
وتجوز العارية مطلقة ومقيدة بمدة وهي مضمونة على المستعير بقيمتها يوم تلفها (1
.....................................
1)روى أبو داود (3562): أنه صلى الله عليه
وسلم استعار يوم حنين من صفوان بن امية أدراعا، فقال له: أغصب يا محمد؟
فقال: (لا، بل عارية مضمونة
Hasyiyah Al-Baijuri Ala Fathul Qorib, Juz : 2 Hal : 21-22
وهي) أي العارية إذا تلفت، لا باستعمال مأذون فيه (مضمونة على المستعير بقيمتها يوم تلفها) لا بقيمتها يوم قبضها، ولا بأقصى القيم
..........................
قوله : ( بقيمتها) سواء كانت متقومة أو
مثلية على المعتمد, كما جزم به في الأنوار واقتضاه كلام الجمهور, خلافا
لابن عصرون في قوله : "يضمن المثلي بالمثل"و وجرى عليه السبكي وإن اعتمده
العلامة الخطيب حيث قال : "هذا هو الجاري على القواعد فهو المعتمد". ورد
بأن في تضمين المثل تضمين ما نقص منه بالإستعمال المأذون فيه, إلا أن تعتبر
المثل وقت التلف
Hasyiyah Al-Bujairomi Alal Khotib, Juz : 3 Hal : 162-163
وهي) أي العين المستعارة (مضمونة على
المستعير) إذا تلفت بغير الاستعمال المأذون فيه وإن لم يفرط كتلفها بآفة
سماوية لخبر: «على اليد ما أخذت حتى تؤديه» وحينئذ يضمنها (بقيمتها) متقومة
كانت أو مثلية (يوم تلفها) هذا ما جزم به. في الأنوار واقتضاه كلام جمع،
وقال ابن أبي عصرون: يضمن المثلي بالمثل وجرى عليه السبكي، وهذا هو الجاري
على القواعد فهو المعتمد
........................
[حاشية البجيرمي]
قوله: (هذا ما جزم به في الأنوار) هو
المعتمد، وما قاله الشارح من المعتمد ضعيف واقتصر م ر في شرحه على الضمان
فقط، وفي فتاويه أن المعتمد الثاني وهو الضمان بقيمته يوم التلف والقلب
إليه أميل كما في م د على التحرير اهـ

No comments:
Post a Comment